LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
LATIHAN III
KARAKTERISTIK MAKROSKOPIS
MIKROBA
Dosen Pengampu: Pujiati, S.Si., M.Si
Disusun Oleh :
Nama : Kurnia Pratiwi
NPM : 16431.028
Kelompok : 4
Asisten
Praktikum : Bagus Setyo Pratondo
LABORATORIUM BIOLOGI II
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI MADIUN
2018
KARAKTERISTIK MAKROSKOPIS
MIKROBA
A.
TANGGAL DAN WAKTU PELAKSANAAN
Praktikum :
Karakteristik Makroskopis Mikroba
Hari
: Selasa
Tanggal
dan waktu : 12 Juni 2018 pukul
08.00 WIB – 15.00 WIB
Tempat
: Laboratorum
Biologi 2 Universitas PGRI Madiun
B.
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Agar mahasiswa dapat membedakan
karakteristik kultur mikroorganisme yang menjadi syarat utama dalam upaya
mengidentifikasi dan mengkalsifikasikan organisme dalam kelompok taksonominya.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan mikroba.
3. Mahasiswa dapat mengetahui karakter
mikroba dari morfologi makroskopisnya.
C.
DASAR TEORI
Karakteristik
Mikroorganisme
Kultur murni atau biakan murni sangat berguna di dalam
mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme,
termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun
serologis. Sifat organisme dalam suatu biakan murni dapat dipelajari dengan
metode yang amat keras dengan hasil yang sangat akurat karena pengaruh sel
hidup yang lain dapat ditiadakan (Volk, 1993).
Karakterisasi terbagi dalam dua tahap yaitu klasifikasi dan identifikasi. Untuk dapat
mengidentifikasi dan mengkasifikasi suatu mikroorganisme, maka kita harus
mempelajari karakteristik mikroorganisme tersebut terlebih dahulu. Klasifikasi
merupakan pengelompokan mikroba ke dalam suatu kelompok taksonomi tertentu. Teori identifikasi mikroba merupakan perbandingan antara yang tidak diketahui
dan yang diketahui. Tingkat keakuratan dari identifikasi bergantung pada
ketelitian kerja preparasi seperti pembuatan media, pembuatan reagen dan
pewarnaan, dan ketelitian dalam melakukan, mengamati, dan mencatat berbagai
uji. (Pelczar, 1993).
Pada dasarnya, teknik
identifikasi bertujuan untuk mengetahui identitas berupa nama spesies dari
mikroorganisme (dapat berupa spesies bakteri, kapang, maupun yeast) seakurat
mungkin. Kebutuhan identifikasi mikroorganisme sangat bergantung pada siapa
yang melakukan identifikasi dan untuk apa identitas mikroorganisme tersebut
digunakan. Sebagai contoh, sebuah industri yang memproduksi produk pangan
memerlukan quality control yang ketat untuk mencegah adanya
kontaminasi mikroorganisme dalam produk mereka. Identitas mikroorganisme
menjadi penting sebagai acuan langkah tindak lanjut apabila ditemukan
kontaminasi pada produk. Contoh yang lain adalah dalam bidang kesehatan dan
kedokteran, dimana identitas suatu mikroorganisme patogen yang menyebabkan
penyakit pada pasien sangat diperlukan sebagai acuan tindakan pemberian
antibiotik maupun treatment pengobatan.
Selain itu, para
peneliti fundamental memerlukan identitas mikroorganisme secara akurat sebagai
dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya khususnya dalam penelitian bioprocess
engineering maupun optimasi proses metabolisme.Secara umum, terdapat dua
teknik identifikasi mikroorganisme yang paling utama, yaitu identifikasi
berdasarkan karakter fenotip dan berdasarkan karakter genotip. Teknik
identifikasi berdasarkan karakter morfologi (fenotip) dikenal sebagai teknik
identifikasi konvensional, sedangkan teknik identifikasi karakter molekuler
(genotip) merupakan teknik identifikasi modern. Identifikasi fenotip
mikroorganisme dilakukan dengan cara mengkarakterisasi ciri morfologi secara
makroskopik (bentuk, warna, pola, kecepatan tumbuh koloni) dan mikroskopik
(bentuk, warna, struktur, pengecatan Gram sel), ciri fisiologi dan ciri
biokimia. Teknik identifikasi karakter molekuler (genotip) erat kaitannya
dengan karakterisasi/ profiling DNA mikroorganisme menggunakan teknik
molekuler berupa analisis pattern/ fingerprint-based dan sequence-based.
Dalam melakukan identifikasi, yaitu pertama
kita harus menentukan apakah suatu organism yang belum dikenal termasuk dalam
kelompok vesar dari suatu mikroorganisme atau tidak, kedua yang harus kita
lakukan adalah memurnikan kultur dari mikroorganisme tersebut, ketiga yaitu
menentukan tipe pertumbuhan dari organism tersebut, keempat adalah mempelajari
kultur murni tersebut. (Frobisher, 1962)
Mikroorganisme apabila ditumbuhkan pada bermacam-macam jenis media, maka
mengembangkan perbedaan dalam penampakan makroskopis dalam pertumbuhannya.
Perbedaan ini disebut karakteristik kultur dan digunakan sebagai dasar untuk
memisahkan mikroorganisme kedalam kelompok taksonominya. Mikroorganisme memiliki perbedaan penampakan
makroskopis dalam perkembangannya apabila ditumbuhkan dalam media yang
berbeda-beda. Perbedaan yang terjadi dikarenakan mikroorganisme memiliki
karakteristik kultural. Karakteristik kultural digunakan sebagai dasar
untuk memisahkan mikroorganisme ke dalam kelompok-kelompok taksonomi.
Pada
praktikum kali ini, dilakukan pengidentifikasian pada koloni mikroorganisme
yang tumbuh pada media nutrient agar cawan. Karakteristik
koloni yang tumbuh terpisah dengan baik dapat dievaluasi dengan ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Ukuran pinpoint (titik sangat kecil), small (kecil), moderate
(sedang), large (lebar).
2. Pigmentasi : warna
koloni.
3. Bentuk
a. Circular : tepian yang teratur/tidak patah.
b. Irregular : tepian yang
berlekuk.
c. Rhizoid :
pertumbuhan menyebar seperti akar.
4. Tepi
a. Entire : sangat
rata
b. Lobate : lekukan
yang jelas
c. Undulate : lekukan
seperti gelombang
d. Serrate : bergerigi
e. Filamentous : seperti
benang, tepian menyebar
5. Elevasi, sudut penonjolan pertumbuhan koloni
pada permukaan agar, yang digambarkan sebagai berikut:
a.
Flat : datar,
elevasi tidak nyata.
b.
Raised : sedikit menonjol.
c.
Convex : elevasi
berbentuk kubah.
d.
Umbonate : menonjol dengan elevasi konveks di
bagian tengah.
Gambar Ukuran, Bentuk,
Elevasi, dan Margin Koloni Bakteri pada Petri
(Sumber: Ferdiaz, 1992)
Menurut Hamidayati dkk., (2008), ciri-ciri
pertumbuhan koloni bakteri pada agar miring diperoleh dengan menggoreskan jarum
inokulum tegak dan lurus. Ciri koloni berdasarkan bentuk:
Gambar
Bentuk Koloni Bakteri pada Medium Agar Miring
(Sumber: Hamidayati dkk., 2008)
Cara penanaman koloni bakteri pada agar tegak
adalah dengan menusukkan jarum inokulum needle
ke dalam media agar tegak. Ciri-ciri koloni berdasarkan bentuk :
Gambar Bentuk Koloni Bakteri pada Medium Agar Tegak
(Sumber: Aulia, 2008)
Ciri koloni berdasarkan kebutuhan oksigen:
Gambar Koloni Bakteri Medium Agar Tegak Berdasarkan
Kebutuhan Oksigen
(Sumber: Finegold, 1996)
Pola pertumbuhan koloni bakteri pada medium cair
berdasarkan kebutuhan oksigen:
Gambar 5. Koloni Bakteri Medium Cair Berdasarkan
Kebutuhan Oksigen
(Sumber: Bailey and Scott’s, 1994)
Bakteri
Bakteri merupakan mikrobia uniseluler yang termasuk dalam kelas
Shizomycetes dan merupakan organisme
prokariotik yang berukuran mikroskopis sehingga bakteri tidak
dapat dilihat langsung oleh mata telanjang tetapi dapat
dilihat dengan menggunakan mikroskop (Waluyo, 2007). Satuan ukuran bakteri ialah
micrometer yang setara dengan 1/1000mm. bakteri yang paling umum dipelajari di
dalam praktikum mikrobiologi dasar berukuran kira-kira 0,5 – 1 x 2 – 5 µm.
sebagai contoh, bakteri stafilokokus dan streptokokus yang berbentuk bola
mempunyai diameter yang berkisar dari 0,75 sampai 1,25 µm. Bentuk batang yang
berukuran rata-rata seperti bakteri tifoid dan disentri mempunyai lebar 0,5 – 1
µm dan panjang 2 – 3 µm. Sel beberapa spesies bakteri amat panjang; panjangnya
dapat melebihi 100 µm dan diameternya berkisar daro 0,1 – 0,2 µm. sekelompok
bakteri yang dikenal sebagai mikoplasma, ukurannya khas amat kecil – demikian
kecilnya sehingga hamper-hampir tak tampak di bawah mikroskop cahaya. Mereka juga pleomorfik; yaitu
morfologinya amat beragam. Ukurannya berkisar dari 0,1 – 0,3 µm (Atlas, 1995).
Untuk menelaah karakteristik
bakteri di laboratorium kita harus dapat
menumbuhkannya dalam biakan murni. Untuk melakukan hal ini haruslah dimengerti jenis-jenis nutrient yang disyaratkan
oleh bakteri dan juga macam lingkungan fisik yang menyediakan kondisi optimum
bagi pertumbuhannya. Beberapa faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan bakteri antara lain temperatur, kelembaban, sinar
matahari, zat kimia, antibiotik, logam berat, dan senyawa-senyawa kimia
tertentu yang dapat menghambat bahkan mematikan bakteri.
Oleh karena itu, kondisi harus disesuaikan sedemikian
sehingga menguntungkan bagi bakteri yang sedang ditelaah. Karena
itu untuk mencirikan beberapa kelompok bakteri, janganlah mengharapkan sifat
yang sama seperti yang digambarkan dan digunakan secara seragam untuk setiap
kelompok. Melainkan akan terlihat bahwa setiap kelompok itu dicirikan oleh
sifat-sifat yang paling nyata untuk kelompok tersebut yakni ciri-ciri yang
dengan segera memisahkan kelompok-kelompok itu dari yang lainnya. Bakteri berbentuk spiral terutama
dijumpai sebagai individu-individu sel yang tidak saling melekat.Tercakup di
dalam kelompok morfologis ini adalah spiroketa, beberapa diantaranya
menyebabkan penyakit yang berbahaya bagi manusia.Individu-individu sel dari
spesies yang berbeda-beda menunjukkan perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam
hal panjang, jumlah, dan amplitudo spiralnya serta kekakuan dinding selnya. Sebagai contoh, beberapa spirilum
berukuran pendek, spiralnya berpilin ketat; yang lain sangat panjang dan
menunjukkan sederetan pelintiran dan lengkungan. Spiral yang pendek dan tidak
lengkap disebut sebagai bakteri koma, atau vibrio (Holt dan Bergey, 1994).
Dari berbagai
macam jenis mikroba, bekterilah yang mempunyai bentuk/morfologi koloni yang
variatif, baik bentuk koloni, bentuk elevasi, tepian maupun struktur dalam
koloni bakteri (Waluyo, 2007).
Koloni bakteri adalah kumpulan dari bakteri yang
membentuk suatu kelompok. Bentuk koloni
berbeda-beda tiap spesies dan merupakan ciri khas bagi suatu spesies tertentu.
Sifat-sifat yang diperlukan dalam menentukan identifikasi suatu spesies
misalnya seperti besar kecilnya koloni, mengkilat tidaknya, halus kasarnya
permukaan, dan warna koloni. Kebanyakan bakteri mempunyai warna yang keputih-putihan,
kelabu, kekuning-kuningan, atau hampir bening, tetapi ada juga spesies yang
mempunyai pigmen warna yang lebih tegas. Keberadaan warna dipengaruhi oleh
faktor-faktor luar seperti temperatur, pH, dan oksigen bebas. Ada beberapa
spesies yang memerlukan fosfat, ada juga yang memerlukan sulfat untuk
menimbulkan pigmentasi (Dwidjoseputro, 1989).
Menurut Jutono, dkk. (1980), berikut ini merupakan
sifat-sifat khas koloni dalam beberapa jenis medium, yaitu:
1.
Medium agar
lempengan (streak plate dan pour plate)
a. Bentuk
koloni akan tampak sebagai titik-titik, bulat, benang, serupa akar, dan
kumparan.
b. Permukaan
koloni dasar, timbul mendatar, timbul melengkung, mencembung, membukit, dan
berkawah.
c. Tepi
koloni ada yang utuh, berombak, berbelah-belah, bergerigi, berbenang, dan
keriting.
2. Medium agar miring
a. Sifat-sifatnya berkisar pada bentuk dan tepi koloni, dan dinyatakan dengan kata-kata seperti serupa batang dan serupa akar.
3. Medium
agar padat (tusukan dalam gelatin/agar)
a. Ada bakteri yang dapat mengencerkan gelatin, ada juga
bakteri yang tidak mampu mengencerkan gelatin.
b. Bentuk koloni serupa pedang, tasbih, bertonjol-tonjol,
berjonjot, serupa batang, serupa kawah, mangkuk, corong, dan pundit-pundi.
Kapang
Kapang
adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan pertumbuhannya pada
makanan mudah dilihat karena penampakkannya yang berserabut seperti kapas.
Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul
akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Sifat-sifat
morfologi kapang baik penampakkan mikroskopik dan makroskopik digunakan dalam
identifikasi dan klasifikasi kapang (Hidayat, 2006).
Kapang
merupakan mikroorganisme yang termasuk dalam anggota Kingdom Fungi yang
membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi yang resmi, sehingga
anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam filum Glomeromycota, Ascomycota,
dan Basidiomycota. Menurut Fardiaz (1992) kapang
terdiri dari suatu thallus yang tersusun dari filamen yang bercabang yang
disebut hifa. Kumpulan dari hifa membentuk suatu jalinan yang disebut miselium.
Setiap hifa memiliki lebar 5-10 µm (Pelczar, 1986).
D.
ALAT DAN BAHAN
1.
Alat
Berikut adalah alat-alat yang
digunakan dalam praktikum karakteristik makroskopis mikroba :
No
|
Nama
Alat
|
Jumlah
|
Fungsi
|
1.
|
Mikroskop Cahaya
|
1 buah
|
Untuk melihat sel
mikroorganisme
|
2.
|
Kaca preparat
|
1 pack
|
Untuk meletakkan objek yang
akan diamati/dianalisis dengan mikroskop
|
3.
|
Cover glass
|
1 pack
|
Untuk
menutupi preparat yang akan diamati dibawah mikroskop
|
4.
|
Jarum Pentul
|
2 buah
|
Untuk menswap sampel yang
akan diletakkan di kaca objek
|
5.
|
Kamera
|
1 buah
|
Untuk mendokumentasikan hasil
pengamatan
|
6.
|
Korek api
|
1 buah
|
Untuk menyala api di atas
bunsen
|
7.
|
Bunsen
|
1 buah
|
Memanaskan larutan dalam
.skala kecil
|
8.
|
Clingwarp
|
1 rol
|
Menutup cawan petri yang sudah
berisi media yang diteliti
|
9.
|
Kertas Label
|
1 pack
|
Unutk memberi label pad sampel
|
10.
|
Mikroskop Cahaya Binokuler
|
1 buah
|
Untuk melihat obyek yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata karena
ukurannya sangat kecil (mikroskopis), terutama mikroorganisme.
|
11.
|
Botol Spary
|
1 buah
|
Untuk wadah alkohol yang digunkan untuk sterilisasi alat dan tempat
|
2.
Bahan
Berikut adalah bahan-bahan yang
digunakan dalam praktikum karakteristik makroskopis mikroba :
No
|
Bahan
|
Jumlah
|
Fungsi
|
1.
|
Media
NA Tanah
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba bakteri tanah
|
2.
|
Media
NA Tanah CMC 1%
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba bakteri tanah
|
3.
|
Media
NA Air Limbah CMC 1 %
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba bakteri air limbah
|
4.
|
Media
NA Air Limbah CMC 2 %
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba bakteri air limbah
|
5.
|
Media
PDA Tanah
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba kapang tanah
|
6.
|
Media
PDA Tanah CMC 1 %
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba kapang tanah
|
7.
|
Media
PDA Air Limbah CMC 1 %
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba kapang air limbah
|
8.
|
Media
PDA Air Limbah CMC 2 %
|
1 sampel
|
Sebagai media pertumbuhan mikroba kapang air limbah
|
9.
|
Alkohol
70%
|
100 ml
|
Umtuk sterilisasi tangan,alat dan lngkungan praktikum
|
10.
|
Aquadest
|
20 ml
|
Untuk pencampuran pada media yang akan di amati pada kaca preparat
|
E.
CARA KERJA
1.
Pengamatan Makroskopis
a) Menyiapkan bahan dan peralatan yang akan
digunakan.
b) Menyalakan busen.
c) Membuka clingwarp media, saat membuka
tetap berada disekat busen agar tidak terjadi kontaminasi.
Mengambil gambar dengan kamera
d) Mengidentifikasi morfologi mikroba yang
ada pada media padat
e) Menutup media kembali dengan clingwarp
2.
Pengamatan Mikroskopis Kapang
a) Menyiapkan bahan dan peralatan yang akan
digunakan.
b) Mengambil setiap spora kapang
menggunakan jarum pentul
c) Mengambil kaca preparat yang sudah
ditetesi air
d) Meletakkan spora pada kaca preparat
e) Menutupi kacara preparat dengan cover
glass
f) Mengamati dibawah mikroskop cahaya dan
mengambil gamabar hasil pengamatan dengan kamera
g) Mengamati dibawah mikroskop cahaya
binokuler dan mengambil gambar hasil pengamatan dengan kamer
F.
HASIL PENGAMATAN
Dari
praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil :
Karakteristik makroskopis PDA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar