LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
LATIHAN IV
PERHITUNGAN KUANTITAS MIKROBA
Dosen Pengampu: Pujiati, S.Si., M.Si
Disusun Oleh :
Nama : Kurnia Pratiwi
NPM : 16431.028
Kelompok : 4
Asisten
Praktikum : Bagus Setyo Pratondo
LABORATORIUM BIOLOGI II
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI MADIUN
2018
PERHITUNGAN KUANTITAS MIKROBA
A.
TANGGAL DAN WAKTU PELAKSANAAN
Praktikum :
Perhitungan Kuantitas Mikroba
Hari
: Selasa
Tanggal
dan waktu : 12 Juni 2018 pukul
08.00 WIB – 15.00 WIB
Tempat
: Laboratorum
Biologi 2 Universitas PGRI Madiun
B.
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan dari praktikum ini adalah memberi pengetahuan dan
keterampilan mahasiswa dalam hal penguasaan teknik seri pengenceran dan penentuan
konsentrasi biomasa bakteri yang variabel dengan hitungan metode cawan (TPC).
C.
DASAR TEORI
Mikroorganisme adalah
makhluk hidup yang mempunyai ukuran yang sangat kecil. Untuk mengamati mikroba
tidak bisa digunakan mata telanjang. Beberapa alat digunakan untuk
mengamatinya, seperti mikroskop dengan perbesaran yang beragam. Selain diamati,
mikroorganisme atau mikrobia tersebut juga dapat dihitung.Perhitungan ini
diperlukan untuk mengetahui seberapa banyak jumlah mikroba yangada di dalam
sampel.
Mikroorganisme memiliki fleksibilitas
metabolisme yang tinggi karena mikroorganisme ini harus mempunyai kemampuan
menyesuaikan diri yang besar sehingga apabila ada interaksi yang tinggi dengan
lingkungan menyebabkan terjadinya konversi zat yang tinggi pula. Akan tetapi karena ukurannya yang
kecil, maka tidak ada tempat untuk menyimpan enzim-enzim yang telah dihasilkan.
Peran mikroorganisme sangat luas yang mencakup di berbagai bidang yang meliputi
: bidang pangan, kesehatan, industri, ekologi, teknik rekayasa genetika, dan
lain-lain. Peran tersebut ada yang merugikan dan ada pula yang menguntungkan (Nurtjahyani, 2011).
Setelah kita mempelajari bagaimana menumbuhkan
suatu koloni bakteri, tentu harus mengetahui kuantitas dan
kualitas dari bakteri tersebut. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah
bagaimana mengetahui kuantitas dari suatu bakteri. Ada berbagai cara untuk
menghitung jumlah sel bakteri, antara lain hitungan langsung dengan menggunakan
mikroskop, dan hitungan tidak langsung dengan metode hitung cawan baik dengan
metode cawan tuang maupun metode cawan sebar.
Pengukuran kuntitatif
populasi mikroba dari suatu sampel dilakukan untuk mengetahui kualitas bahan
atau tujuan lain berdasarkan jumlah mikroba yang ada dalam sampel tersebut.
Sehingga dengan kita dapat mengetahui apakah mikroba tersebut berbahaya atau
bahkan baik bagi lingkungan dalam jumlah tertentu.
Untuk mengetahui
perkembangan suatu bakteri membutuhkan pembuatan media dengan metode
perhitungan bakteri yang ada dalam media. Ada banyaknya metode yang digunakan
dalam menghitung jumlah bakteri secara kuantitatif dari suatu populasi bakteri.
Proses penghitungan sel bakteri
dapat dilakukan dengan beberapa metode baik secara langsung maupun tidak
langsung, diantaranya adalah metode hitung pada cawan petri (standard plate count), metode pengamatan
langsung dengan kaca objek atau metode hitung dengan menggunakan haemocytometer, metode ukur kekeruhan (turbidimetri) menggunakan spektrophotometer dan metode jumlah
perkitaan terdekat.
Dalam praktikum kali ini menggunakan
metode hitung koloni dicawan petri (standar atau viable plate count methond) dan spektrofotometer (turbidimeter), kedua metode ini sering sekali
digunakan karena kedua metode ini terhadang menghasilkan hasil perhitungan yang
mirip namun keduanya mempunyai prinsip yang berbeda.
Adapun tujuan praktikum
perhitungan jumlah bakteri kali ini ialah mengetahui berbagai cara menghitung
jumlah sel dari biakan suatu bakteri (Dwidjoseputro, 1994).
Istilah
pertumbuhan umumnya digunakan bakteri dan mikroorganisme yang lainnya dan
biasanya lebih mengacu pada perubahan di dalam hasil panen sel dan bukanlah
dilihat.Pertambahan jumlah
individu mikroorganisme tersebut. Suatu proses pertumbuhan menyatakan
pertambahan jumlah atau massa yang melebihi dari yang ada di dalam inokulum
asalnya (Volk, 1993).
Berbagai cara dapat dilakukan untuk menentukan jumlah
bakteri yang terdapat pada bahan pemeriksaan. Cara yang paling sering digunakan
adalah cara perhitungan koloni pada lempeng biakan (plate count),selainitu terdapat juga atau dapat
diadakan perhitungan langsung secara mikroskopis.Cara yang dapat digunakan
untuk menghitung jumlah mikroba salah satunya adalah cara menghitung langsung.
Cara ini pada mulanya dilakukan dalam pemeriksaan bakteri yang dapat dalam air
susu, tetapi dapat digunakan untuk penelitian lain. Cara ini tidak diketahui berapa
jumlah bakteri hidup, tetapi pengerjaannya lebih cepat. Cara
penghitungan pada lempeng pembiakan disebut juga metode penghitungan bakteri
hidup atau metode penghitungan koloni. Penghitungan koloni, dilakukan
penyimpanan pada suhu yang sesuai. Bakteri dapat tumbuh menjadi satu koloni
yang terhitung mewakili jumlah bakteri hidup yang terdapat dalam tiap volume
pengenceran yang digunakan (Fardiaz,
1993).
Tersedia
banyak teknik untuk menghitung jumlah mikroba, diantaranya ialah metode hitung
cawan (TPC) dan metode turbidimetrik:
1.
Total Plate Count (TPC)
Prinsip
dari metode hitungan cawan adalah menumbuhkan sel mikroba yang masih hidup pada
metode agar, sehingga sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk
koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.
Metode hitungan cawan dapat dibedakan atas dua cara yaitu: metode tuang (pour plate) dan metode permukaanatausebar (surfaceatauspread plate)
(Fardiaz, 1993).
Praktikum kali ini akan
dilakukan metode penghitungan cawan (TPC) untuk penghitungan kuantitas mikroba.
Metode hitungan
cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan
berkembang biak menjadi satu koloni. Jumlah koloni yang muncul pada cawan mengandung suatu
indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terkandung dalam sampel.
Teknik yang harus dikuasai dalam metode ini adalah mengencerkan sampel dan
mencawankan hasil pengenceran tersebut. Waktu inkubasi, jumlah koloni masing-masing cawan diamati. Cara memenuhi
persyaratan statistik, cawan yang dipilih untuk penghitungan koloni ialah yang
mengandung antara 30-300 koloni. Jumlah mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui
sebelumnya, maka untuk memperoleh sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung
koloni dalam jumlah yang memenuhi syarat tersebut, maka harus dilakukan
sederetan pengenceran dan pencawanan. Jumlah organisme yang terdapat dalam
sampel asal ditentukan dengan mengkalikan jumlah koloni yang terbentuk dengan
faktor pengenceran pada cawan yang bersangkutan (Waluyo, 2004).
Perhitungan
ini mengacu kepada standar atau peraturan yang telah ditentukan. Syarat khusus
dalam perhitungan ini antara lain (Pujiati, 2016):
a.
Salah satunya yaitu, seperti yang telah disebutkan di atas untuk memilih
cawan yang telah ditumbuhi koloni dengan jumlah 30-300 koloni.
Jika ˃ 300 = TNTC (Too Numerous To Count) atau TBUD (Terlalu banyak
untuk dihitung). Jika ˂ 30 = TFTC (Too Few To Count).
|
10-2
|
10-3
|
10-4
|
TPC
|
Keterangan
|
|
234
650
TNTC
|
20
127
TNTC
|
5
10
195
|
2,3 ×
104
1,3 ×
105
2 × 106
|
28 dan
5 ˂ 30
650 ˃
300
TNTC ˃
300
|
b.
Jumlah koloni
yang dilaporkan terdiri dari 2 digit, yaitu angka satuan dan angka sepersepuluh
yang dikali dengan kelipatan 10 (eksponensial), missal 2,3 × 104, bukan 2,34 × 104. Pembulatan
keatas dilakukan pada angka seperseratus yang sama atau lebih besar dari lima,
missal 2,35 × 104 menjadi 2,4 × 104, atau 2,34 × 104menjadi
2,3 × 104.
c.
Bila diperoleh perhitungan ˂ 30 dari semua pengenceran, maka hanya dari
pengenceran terendah yang dilaporkan.
|
10-2
|
10-3
|
10-4
|
TPC
|
Keterangan
|
|
15
|
1
|
0
|
1,5 ×
10
|
Semua ˂
30
|
d.
Bila diperoleh perhitungan ˂ 300 dari semua pengenceran, maka hanya dari
pengenceran tertinggi yang dilaporkan.
|
10-2
|
10-3
|
10-4
|
TPC
|
Keterangan
|
|
TNTC
TNTC
|
TNTC
325
|
358
18
|
3,6 ×
106
3,3 ×
105
|
Pengenc.
Tertinggi (10-4)
Pengenc.
Tertinggi (10-3)
|
e.
Bilaada 2 cawan, masing-masingdaripengenceranrendahdantinggi yang
berurutan dengan jumlah koloni 30-300 dan hasil bagi dari jumlah koloni
pengenceran tertinggi dan terendah ≤ 2, makajumlah yang dilaporkan adalah nilai
rata-rata. Jikahasil bagi dari pengenceran tertinggi dan terendah ˃ 2, maka
jumlah yang dilaporkan adalah dari cawan dengan pengenceran terendah.
|
10-2
|
10-3
|
10-4
|
TPC
|
Keterangan
|
|
295
140
|
40
35
|
5
1
|
3,5 ×
104
1,4 ×
104
|
40.000/29.500
˂ 2
35.000/14.000
˃ 2
|
f.
Apabila setiap pengenceran digunakan 2 cawan petri (duplo), maka jumlah
angka yang digunakan adalah rata-rata dari kedua nilai jumlah
masing-masing
setelah diperhitungkan.
|
10-2
|
10-3
|
10-4
|
TPC
|
Keterangan
|
|
175
208
|
15
20
|
5
2
|
(17.500+20.800)/2
= 1,9 × 104
|
15 dan
20 ˂ 30
|
|
135
165
|
45
45
|
5
8
|
(13.500+16.500)/2
= 1,5 × 104
|
45.000/13.500
˃ 2
45.000/10.500
˃ 2
Dilap.
Pengenc. Terendah
|
|
275
285
|
35
40
|
5
7
|
(27.500/35.000)/2
= a
(28.500+40.000)/2
= b
(a+b)/2
= 3,3 × 104
|
27.500/35.000
˂ 2
28.500/40.000
˂ 2
Dilap.
Hasil rata-rata
|
|
290
305
|
25
28
|
5
0
|
(29.000+30.000)/2
= 3 × 104
|
25 dan
28 ˂ 30
Meskipun
305 ˃ 300
|
Metode ini merupakan cara paling
sensitif untuk menentukan jumlah jasad renik, dengan alasan:
1)
Hanya sel mikroba yang hidup yang
dapat dihitung
2)
Beberapa jasad renik dapat dihitung
sekaligus
3)
Dapat digunakan untuk isolasi, dan
identifikasi mikroba karena koloni yang terbentuk mungkin berasal dari mikroba
yang mempunyai penampang spesifik (Dwidjoseputro, 2005).
Keuntungan-keuntungan
tersebut diatas, metode hitungan cawan juga mempunyai kelemahan sebagai
berikut:
1) Hasil
perhitungan tidak menunjukkan jumlah sel yang sebenarnya, karena beberapa sel
yang berdekatan mungkin membentuk koloni.
2) Medium
dan kondisi inkubasi yang berbeda mungkin menghasilkan jumlah yang berbeda pula.
3) Mikroba
yang ditumbuhkan harus dapat tumbuh pada medium padat dan membentuk koloni yang
kompak, jelas dan tidak menyebar.
4) Memerlukan
persiapan dan waktu inkubasi relatif lama sehingga pertumbuhan koloni dapat
dihitung (Dwidjoseputro, 2005).
2.
Metode turbidimetrik
Metode
turbidimetrik merupakan metode pengukuran kekeruhan biakan dengan
fotokolorimetri.Memerlukansuatu
kurva standar yang menyatakan korelasi antara kekeruhan biakan dengan jumlah
organisme per-ml biakan,agar data yang diperoleh pengukuran ini dapat
dinyatakan sebagai konsentrasi organisme. Kurva semacam ini dapat diperoleh
dengan cara menggunakan metode hitungan cawan untuk menentukan hitungan
organisme di dalam biakan yang kekeruhannya diketahui. Kurva standar
ini diperoleh, maka sejumlah organisme biakan sejenis dapat dengan cepat diukur
kekeruhannya dan konsentrasinya segera diketahui dengan cara membaca kurva
standar tersebut (Dwidjoseputro,
2005).
Syarat koloni yang ditentukan untuk dihitung adalah
sebagai berikut:
Satu koloni dihitung 1 koloni.Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni. Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni. Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak dihitung. Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni (Pradhika, 2008).
Satu koloni dihitung 1 koloni.Dua koloni yang bertumpuk dihitung 1 koloni. Beberapa koloni yang berhubungan dihitung 1 koloni. Dua koloni yang berhimpitan dan masih dapat dibedakan dihitung 2 koloni. Koloni yang terlalu besar (lebih besar dari setengah luas cawan) tidak dihitung. Koloni yang besarnya kurang dari setengah luas cawan dihitung 1 koloni (Pradhika, 2008).
D. ALAT
DAN BAHAN
1. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
|
No
|
Nama
|
Jumlah
|
Fungsi
|
|
1
|
Tabung
reaksi
|
9
buah
|
Sebagai
tempat air fisiologis dan untuk pengenceran sampel.
|
|
2
|
Rak
tabung reaksi
|
1
buah
|
Sebagai
tempat untuk menaruh tabung reaksi
|
|
3
|
Gelas
Ukur
|
1
buah
|
Untuk
mengukur volume larutan
|
|
4
|
Bunsen
|
1buah
|
Untuk membakar zat atau memanaskan larutan
|
|
5
|
Cawan
petri
|
2
buah
|
Sebagai
tempat untuk perkembangbiakan mikroba
|
|
6
|
Botol
spray
|
1
buah
|
Untuk
menyimpan alkohol
|
|
7
|
Alumunium
foil
|
Secukupnya
|
Untuk
melapisi tabung reaksi yang telah disumbat kapas supaya uap air saat proses
sterilisasi dalam autoclave tidak
masuk dalam tabung reaksi.
|
|
8
|
Korek
api
|
1
buah
|
Untuk
menyalakan api pada bunsen
|
|
9
|
Pipet
volume
|
2
buah
|
Untuk
memindahkan larutan dengan volume yang diketahui
|
|
10
|
Kertas
label
|
Secukupnya
|
Untuk
memberi label pada setiap tabung reaksi dan cawan petri.
|
|
11
|
Kapas
|
Secukupnya
|
Untuk
menyumbat lubang pada tabung reaksi.
|
|
12
|
Timbangan
digital
|
1
buah
|
Untuk
menimbang suatu zat
|
|
13
|
Cling
warp
|
1
rol
|
Untuk
menutup wadah (cawan petri) yang sudah berisi media yang akan diteliti
|
|
14
|
Penggaris
|
1
buah
|
Untuk
membagi cawan petri menjadi 4 kuadran
|
|
15
|
Spidol
|
1
buah
|
Untuk
memberi tanda kuadran
|
|
16
|
Kamera
|
1
buah
|
Untuk
dokumentasi
|
2. bahan
Bahan
yang digunakan pada praktikum ini adalah :
|
No
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
Fungsi
|
|
1.
|
NA
|
1,2 gram
|
Sebagai media sintetik
penumbuh bakteri
|
|
2.
|
PDA
|
2,34 gram
|
Sebagai media sintetik
penumbuh bakteri
|
|
3.
|
Kertas label
|
1 lembar
|
Untuk melabeli sampel
|
|
4.
|
Alkohol 70%
|
100 ml
|
Menyeterilkan alat dan
bahan
|
|
5.
|
Gliserovulvin
|
2 ml
|
Anti kapang
|
|
6.
|
Air limbah deterjen
|
1 ml
|
Air sample
|
|
7.
|
CMC 2%
|
1,2 gram
|
Media sintetik selulosa
|
|
8.
|
Air fisiologis
|
81 ml
|
Air bersih dari mikroba
|
|
9.
|
Tanah
|
1 gram
|
Tanah sample
|
E. CARA
KERJA
1.
Menyiapkan alat dan bahan praktikum
2.
Menyeterilkan alat praktikum, meja praktikum dan
tangan praktikum dengan alkohol
3.
Menimbang 1 gram tanah, kemudian melarutkan
dengan 9 ml air fisiologis pada tabung reaksi pertama dan memberi label
pengenceran 10-1
4.
Mengambil 1 ml larutan pada tabung reaksi
pertama pengenceran 10-1, kemudian memasukkan kedalam tabung reaksi
ke-2 dan memberi label pengenceran 10-2 yang didalamnya telah berisi
air fisiologis 9 ml, selanjutnya menghomogenkan dengan cara
menyemprot-nyemrotkan dengan pipet volum
5.
Megulangi cara kerja ke-4 sampai tabung reaksi
ke-15 yang masing-masing tabung reaksi telah berisi air fisiologis dan
menghomogenkan dengan menyemprot-nyemprotkan dengan pipet volum serta memberi
label pada setiap tabung reaksi pengenceran 10-3 sampai pengenceran
10-15
6.
Membuka cawan petri yang telah disterilkan
dengan menggunakan autoklaf dengan posisi dekat dengan api.
7.
Mengambil larutan 1 ml dari tabung reaksi
pengenceran 10-8 menggunakan pipet volum, selanjutnya mengambil
larutan gliserovulvin sebanyak 1 ml dan menambahkan larutan NA kedalam cawan
petri sampai seluruh permukaan cawan petri terpenuhi.
8.
Memutar cawan petri searah angka 8 sebanyak 8
kali, kemudian mendiamkan media sampai memadat, setelah memadat praktikan
melapisi tepi cawan petri menggunakan cling wrap.
9.
Mengulangi cara kerja ke-7 dan ke-8 sampai
tabung reaksi ke-15 atau sampai pengenceran 10-15
10. Media akan memadat kurang
lebih 24 jam, mengamati dan menghitung secara kuantitatif jumlah koloni
disetiap cawan petri, kemudian menuliskan data hasil pengamatan.
11. Menggaris vertikal dan
horizontal pada belakang cawan petri dan membagi menjadi 4 kuadran
12. Memberi nomor setiap kolom
pada cawan petri yang telah digarisi
13. Menghitung koloni pada
setiap kolom
14. Menjumlah semua duta dan
menghitung koloni sesuai dengan syarat-syarat TPC.
F. HASIL
PENGAMATAN
Dari praktikum
yang telah dilakukan didapatkan hasil yaitu
1.
Perhitungan kuantitas mikroba (kelompok 1)
|
No
|
Media Pengencaran
|
Jumlah Koloni
|
|
1.
|
Media PDA 10-8
|
Kuadran
I : 65 koloni
Kuadran
II : 39 koloni
Kuadran
III : 33 koloni
Kuadran
IV : 74 koloni
Jumlah total : 211
koloni
|
|
2.
|
Media PDA 10-9
|
Kuadran
I : 7 koloni
Kuadran
II : 10 koloni
Kuadran
III : 14 koloni
Kuadran
IV : 6 koloni
Jumlah total : 37 koloni
= 37.000.000.000 cfu
|
2.
Perhitungan kuantitas mikroba (kelompok 2)
|
No
|
Media Pengencaran
|
Jumlah Koloni
|
|
1.
|
Media PDA 10-8
|
Kuadran
I : 37 koloni
Kuadran
II : 39 koloni
Kuadran
III : 38 koloni
Kuadran
IV : 42 koloni
Jumlah total : 156 koloni
|
|
2.
|
Media PDA 10-9
|
Kuadran
I : 34 koloni
Kuadran
II : 36 koloni
Kuadran
III : 35 koloni
Kuadran
IV : 35 koloni
Jumlah total : 140 koloni
= 140000000000 cfu
|
3.
Perhitungan kuantitas mikroba (kelompok 3)
|
No
|
Media
Pengenceran
|
Jumlah
Koloni
|
|
1.
|
Media NA 10-8
|
Kuadran
I : 110 koloni
Kuadran
II : 89 koloni
Kuadran
III : 77 koloni
Kuadran
IV : 103 koloni
Jumlah total : 379
koloni
|
|
2.
|
Media NA 10-9
|
Kuadran
I : 99 koloni
Kuadran
II : 152 koloni
Kuadran
III : 61 koloni
Kuadran
IV : 35 koloni
Jumlah total : 347
koloni
|
4.
Perhitungan kuantitas mikroba (kelompok 4)
|
No.
|
Media Pengencaran
|
Jumlah Koloni
|
|
1.
|
Media NA + CMC 1%+Air
Limbah Pengenceran 10-8
|
Kuadran
I : 12 koloni
Kuadran
II : 8 koloni
Kuadran
III : 6 koloni
Kuadran
IV : 4 koloni
Jumlah total : 30 koloni
TPC
|
|
2.
|
Media NA + CMC 1%+Air
Limbah Pengenceran 10-9
|
Kuadran
I : 18 koloni
Kuadran
II : 13 koloni
Kuadran
III : 14 koloni
Kuadran
IV : 5 koloni
Jumlah total : 53 koloni
TPC
= 53.000.000.000 cfu
|
5.
Perhitungan kuantitas mikroba (kelompok 5)
|
No
|
Media Pengenceran
|
Jumlah Koloni
|
|
1.
|
NA +
CMC 2% Deterjen 10-8
|
I = 39
II = 56
III = 52
IV = 47
Total = 194 x 1/10-8
=
194 x 108
=
19400000000
|
|
2.
|
NA +
CMC 2% Deterjen 10-9
|
I = 28
II = 34
III = 34
IV = 84
Total = 180 x 1/10-9
=
180 x 109
= 18
x 1010
=
180000000000
|
6.
Perhitungan kuantitas mikroba (kelompok 6)
|
No
|
Media Pengencaran
|
Jumlah Koloni
|
|
1.
|
Media PDA 10-8
|
Kuadran
I : 36 koloni
Kuadran
II : 35 koloni
Kuadran
III : 33 koloni
Kuadran
IV : 16 koloni
Jumlah total : 120 koloni
|
|
2.
|
Media PDA 10-9
|
Kuadran
I : 11 koloni
Kuadran
II : 34 koloni
Kuadran
III : 17 koloni
Kuadran
IV : 5 koloni
Jumlah total : 67 koloni
= 67000000000 cfu
|
G. DOKUMENTASI
Berikut adalah dokumentasi pada isolasi mikroba
beserta langkah-langkahnya :
|
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1.
|
|
Menyiapkan alat dan bahan.
|
|
2.
|
|
Sebelum menyiapkan alat dan bahan praktikum,
menyeterilkan tangan pratikan, kemudian memberikan garis bantu pada cawan
petri sebanyak 4 kuadran.
|
|
3.
|
|
Menghitung koloni kapang dari setiap kuadran dengan memberi
tanda menggunakan spidol
|
|
4.
|
Menghitung total jumlah
bakteri dari masing-masing kuadran, menggunakan rumus TPC.
|
H. PEMBAHASAN
Praktikum ini, kita melakukan percobaan mengenai
Total Plate Count. Percobaan ini digunakan sampel air limbah deterjen yang
memiliki berjuta-juta bakteri, oleh karena itu dilakukan pengenceran.
Pengenceran dilakukan hingga 1.10-15 Pengenceran dilakukan untuk mengurangi populasi mikroba dalam cairan.
Cara pengenceran, setelah dicampur, campuran divortex agar dapat tercampur rata
di setiap bagian, lalu pengenceran 10-8dan 10-9 masing-masing
dituang dalam cawan petri berbeda, kemudian dicampur dengan media NA agar
mikroba dapat tumbuh. Perlakuan selanjutnya adalah menginkubasi selama 24 jam,
waktu selama ini merupakan waktu yang bagus, karena mikroba yang tumbuh tidak
memenuhi cawan apabila terlalu lama dan tidak terlalu sedikit apabila terlalu
sebentar. Biakan yang telah diinkubasi, koloni dihitung, koloni dihitung dengan
cara manual dengan cara menghitung satu persatu mikroba yang tumbuh dalam
cawan. Cara penghitungan yang bagusdengan dibantu oleh digital coloni counter.
Prinsip alat ini adalah membantu penglihatan kita dengan memperbesar
menggunakan LUV dan dibantu dengan cahaya dari bawah.
Metode
hitungan cawan didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat berkembang
hidup akan berkembangbiak menjadi satu koloni. Jumlah koloni yang muncul dalam
cawan mengandung indeks bagi jumlah mikroorganisme yang dapat terkandung dalam
sampel. Teknik yang harus dikuasai dalam metode ini adalah mengencerkan sampel
dan mencawankan hasil pengenceran tersebut. Selesai diinkubasi jumlah
masing-masing cawan diamati untuk memenuhi persyaratan statistic, cawan yang
dipilih untuk penghitungan koloni adalah yang mengandung 30-300 koloni. Jumlah
mikroorganisme dalam sampel tidak diketahui sebelumnya, maka untuk memperoleh
sekurang-kurangnya satu cawan yang mengandung koloni dalam jumlah yang memenuhi
persyaratan tersebut, harus dilakukan
sederetan pengenceran dan pencawanan. Jumlah organisme yang terdapat
dalamsampelasal ditentukan dengan menggunakan jumlah koloni yang terbentuk
dengan factor pengenceran pada cawan yang bersangkutan.
Prinsip
dari metode TPC adalah bila sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada
medium, maka mikroba tersebut akan berkembangbiak dan membentuk koloni yang
dapat dilihat langsung dan kemudian dihitung tanpa menggunakan mikroskop.
Metode ini merupakan cara paling sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik,
dikarenakan, hanya sel mikroba
yang hidup yang dapat dihitung,
beberapa
jasad renik dapat dihitung sekaligus,
dapat
digunakan untuk isolasi, dan identifikasi mikroba karena koloni yang dibentuk
mungkin berasal dari mikroba yang mempunyai penampang yang spesifik.
Perhitungan mikroba ini dilakukan pengenceran
sampel agar jumlah koloni yang tumbuh dalam cawan petri tidak terlalu banyak
maupun terlalu sedikit, yaitu antara
30-300 koloni. Semakin banyak pengenceran, maka
jumlah koloni yang dihasilkan semakin sedikit. Metode cawan tuang adalah metode yang simple untuk
menghitung mikroba, dimana sampel yang sesuai dengan pengenceran yang akan
digunakan dituang ke dalam cawan petri dan dicampur media NA yang kemudian
jumlah koloni cawan dihitung secara langsung.
Hasil pengamatan dari
perhitungan kapang pada media PDA murni pengenceran 10-8 berjumlah
154 koloni dengan rincian kuadran I berjumlah 37 koloni, kuadran II 39 koloni,
kuadran III 38 koloni dan kuadran IV berjumlah 42 koloni. Hasil perhitungan dengan rumus TPC yaitu 156 x 108.
Sedangkan pada pengenceran 10-9 berjumlah 140 dengan rincian,
kuadran I 34 koloni, kuadran II 36 koloni, kuadran III 35 koloni dan kuadran IV
35 koloni, hasil dari perhitungan dengan rumus TPC yaitu 140x109. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa sample media PDA yang digunakan mengandung kapang yang
melimpah. Jumlah koloni kapang berbanding terbalik dengan tingkat pengenceran
dalam artian semakin rendah tingkat pengenceran maka jumlah kapang semakin
banyak. Serta pertumbuhan koloni juga dipengaruhi oleh faktor seperti pH, Suhu,
Sumber karbon dan Nitrogen.
I. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilaksanakan
dapat disimpulkan bahwa:
1.
Pada media NA 10-8 terdapat 194
jumlah koloni
2.
Pada media NA 10-9 terdapat 180
jumlah koloni
3.
Semakin tinggi tingkat pengenceran, maka semakin
sedikit jumlah koloninya.
4.
Pada media NA 10-8 dan NA 10-9 terdapat
jumlah koloni daintara 30-300 koloni. Hal ini sesuai dengan syarat perhitungan
TPC.
5.
Dari perhitungan kapang pada media PDA
murni pengenceran 10-8 berjumlah 154 koloni.
DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro,
D. 1994. Dasar dasar mikrobiologi.
Jakarta: Djambatan.
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar
Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.
Fardiaz,
Srikandi. 1993. Mikrobiologi Pangan.
Institut PertanianBogor :Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PAU Pangandan
Gizi.
Nurtjahyani, 2011. Peran Mikroorganisme Dalam
Perkembangan Mikrobiologi Pangan. Prospektus. Vol. Ix No. 1.
Pujiati
S.Si.,M.Si. 2016. Petunjuk Praktikum
Mikrobiologi Dasar. Prodi Biologi IKIP PGRI Madiun.
Pradhika,
E.I. 2008. Menentukan Jumlah dan Ukuran Mikroba.
Waluyo, Lud. 2004. Mikrobiologi.
Malang : Universitas Muhammadiah Malang
Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar
Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar