Selasa, 17 Juli 2018

“ANCAMAN TERHADAP ILMU PENGETAHUAN”

Nama  : Kurnia Pratiwi
NPM   : 16431028
Kelas : P. Biologi IVA
  FILSAFAT SAINS
Review video kuliah terbuka Dr. Karlina supelli.M.Sc.
“ANCAMAN TERHADAP ILMU PENGETAHUAN
            Beberapa materi yang dapat saya pahami dari video tersebut diantaranya, Ilmu pengetahuan tidak mengajarkan kepastian melainkan melatih akal budi untuk berani menyangsikan segala sesuatu dan segala sesuatu yang telah teruji melalui menyangsikan akan kokoh. Manusia yang sibuk memuja diri atau kelompoknya menolak pendapat dan pengetahuan yang tidak sejalan dengan pahamnya – pun saat fakta tersedia di depan mata. Sebaliknya, “apa yang aku percayai”, “apa yang kuinginkan” atau “apa yang kusuka” dapat berubah menjadi kebenaran. Bahwa faktanya tidak demikian, adalah perkara belakangan. Tak ada dusta di dunia; hanya ada “fakta alternatif”.
            Ilmu pengetahuan bukan urusan percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka. Perkembangan ilmu pengetahuan tentu melibatkan kepercayaan-kepercayaan individual. Akan tetapi, kriteria keberterimaan suatu teori mengacu ke tataran empiris dan logis. Empiris berarti ada kesesuaian antara pernyataan yang dirumuskan oleh pikiran dan fakta yang ada di dunia; logis berarti pernyataan-pernyataannya sederap, tidak saling bertentangan. Setia pada fakta akan ditafsirkan menurut teori, apa yang ada di dunia sulit untuk disembunyikan,dan sains bekerja dengan fakta. Dan fakta tersebut melahirkan hukum-hukum deskripsi gejala, tetapi deskripsi tidak menjelaskan mengapa. Mengapa – mekanisme real- peristiwa aktual- pengalaman empiris. Kerumitan data pada penelitian menghasilkan kesimpulan yang terus bereplikasi. Dalam ilmu pengetahuan, kepercayaan tidak dapat menggantikan penalaran ilmiah. Sebagaimana nalar belaka tidak dapat membuahkan harapan, kepercayaan tidak dapat menghasilkan pengetahuan tentang kementakan gejala-gejala di dunia. Kepercayaan dapat membuahkan nubuat, tetapi kesahihannya didapat dari dalam kepercayaan itu sendiri. Sains hanya bekerja di dalam batas ruang dan waktu seperti menjelaskan mekanisme atau proses- proses. Realitas (tidak ada batasnya) – batas metode ilmiah – gejala dunia – mekanisme. Jangan samakan antara sikap ilmuwan dengan apa yang dibutuhkan oleh ilmu pengetahuan untuk menjadi ilmu. Sikap dan ilmu jangan dirancukan. Dengan adanya batas maka meenjadi jelas apa yang bisa dipelajari oleh sains dan diberi penjelasan ilmiah dari apa yang kita biarkan tidak perlu dimasuki oleh sains.
            ilmu pengetahuan bercorak serkular. Serkularisasi adalah kesanguupan untuk berpikir pada ranah dunia ini dan mencari penjelasan di dunia. Ketika kita dengan mudah meminjam penjelasan dari luar dunia, maka nalar terbentur pada peutlakan. Akal budi menjadi tumpul karena segala persoalan dengan mudah dijawab. Ilmu pengetahuan membutuhkan sikap aknostik (dunia itu ada atau tidak ada bukan urusan ilmu pengetahuan). Ilmu pengetahuan mempunyai kepentingan untuk membangun sikap menolak atau tidak menolak.
            Ilmu digunakan untuk menjastifikasi dan ketika tidak cocok ilmu dianggap tidak perlu. Intinya ilmu dipilih secara selektif. Relativisme bermula dari kritik terhadap rasionalitas ilmu pengetahuan dan kekuasaannya yang didapat melalui pengorganisasian ilmu pengetahuan secara besar-besaran (Big Science). Pada gilirannya, relativisme menjadikan ilmu pengetahuan sebagai program yang mustahil. Ancaman terhadap ilmu pengetahuan dapat dihindari apabila pada setiap masyarakat khususnya bagi pendidik maupun mahasiswa dapat secara aktif berfikir kritis serta membuka wawasan mereka terhadap ilmu – ilmu baru tanpa menjastifikasi salah atau benar.



1 komentar: